Makna Sebuah Kekayaan

Oleh: Samsu Wijayanto
Banyak orang berlomba-lomba dalam mencari dan meraih kekayaan. Apapun pekerjaan yang kita lakukan, seringkali berorientasi pada sebuah kekayaan. buktinya, mayoritas pekerja, seperti guru, karyawan, pelayan, pegawai swasta maupun negeri dan masih banyak lagi menantikan adanya gajian dan upah setiap bulannya. Begitu juga pedagang, pengamen, tukang becak dan siapapun yang bekerja secara mandiri, pasti menginginkan adanya laba dan hasil dalam berusaha.
Oleh karena itu, sebuah kisah akan tersaji untuk anda. Kisah ini akan mengungkapkan bagaimana dan apa itu kekayaan. Dan apabila anda adalah orang kaya atau seorang yang berusaha dalam mencari nafkah, maka sangat tepat jika membaca kisah berikut ini.
Di sebuah angkutan umum yang lumayan penuh, duduk seorang bapak berumur 37 tahun. Bapak tersebut bernama Pak Umar. Dia seorang tukang bersih-bersih di panti asuhan di kecamatan tempatnya tinggal. Sebagai seorang tukang bersih-bersih, upahnya tidak begitu besar untuk mencukupi keluarganya. Mungkin bisa dikatakan pas-pasan. Namun meski begitu dia bisa menyekolahkan anaknya hingga sekolah menengah pertama (SMP). Karena sekolah anaknya lumayan dekat dengan tepatnya bekerja, maka setiap hari Umar selalu mengantar sekaligus menjemput anaknya.
Di sampingnya duduk seorang siswa SMP (Sekolah Menengah Pertama) yang tidak lain adalah anaknya, Hasan namanya. Dia adalah anak berusia sekitar 12 tahun. Saat ini dia duduk dibangku SMP kelas VII. Dia bisa dibilang biasa saja, sama seperti anak pada umumnya. Namun dia lebih tekun dan ulet dari teman-teman sebayanya. Dia sering mengulang pelajaran yang diajarkan di sekolah sepulang sekolah. Tidak heran jika dia sering menjadi siswa dengan peringkat (ranking satu) di kelasnya. Sekali lagi semua berkat keuletan, ketekunan yang dia lakukan dan tentunya dukungan serta bimbingan dari kedua orangtuanya.
Pada saat di dalam angkutan umum, Hasan pun berkata kepada ayahnya. “Yah, kata-katanya bagus ya”, tanya Hasan sambil menunjuk suatu kalimat dalam buku yang dibaca oleh ayahnya. Kalimat tersebut bertulisan “you will be a great man (kamu akan menjadi orang besar).” Umar pun berkata, “kata-kata itu memang bagus nak, tapi apakah kamu tahu itu kalimat itu untuk siapa?”. Hasan pun bertanya, untuk siapa, yah? Ayahnya menjawab, “itu untuk orang-orang yang mau bermimpi, berusaha dan tekun dalam menjalani apa yang sudah diimpikannya. Maka dari itu, bermimpilah wahai anakku, dan bertanggung jawablah atas mimpi-mimpimu”. Jawab ayah Hasan.
Sesampainya di gang dekat rumah mereka, mereka pun memutuskan untuk turun. Kemudian mereka berjalan menyusuri jalan sempit itu. Ketika hampir melewati sebuah masjid, Umar meminta anaknya untuk berhenti sejenak dan menunggunya sebentar. Dia ternyata masuk masjid tersebut untuk memasukkan uang ke dalam kotak amal. Setelah itu Umar mengahampiri Hasan, anaknya seraya tersenyum. Hasan pun membalas senyuman ayahnya. Lalu tidak jauh dari masjid itu duduk seorang pengemis buta dan berpakaian compang-camping. Melihat hal tersebut Umar mengeluarkan dompetnya dan memberi pengemis tersebut uang lima ribuan. Dalam hati Hasan pun bertanya-tanya dengan apa yang dilakukan ayahnya.
Saat sampai di rumah, Hasan menanyakan pertanyaan yang sempat dia pendam beberapa menit yang lalu. “Yah, mengapa ayah selalu memberi? Padahal kehidupan kita saja pas-pasan. Lagian ayah kan sudah memasukkan uang ke dalam kotak amal yang berada di dalam masjid. Mendengar pertanyaan anaknya Umar tersenyum dan menjawab, “nak, kita memang hidup pas-pasan, tapi ayah ingin mengajarkan kepadamu apa arti kaya sesungguhnya. Orang kaya atau orang yang memiliki kekayaan bukanlah orang yang memiliki banyak uang atau bergelimang harta, bermobil mewah dan memakai baju serba mahal. Orang kaya bukan seberapa banyak harta yang kita miliki, namun seberapa banyak yang kita keluarkan untuk membantu orang dalam kesusahan”. Jelas Umar kepada anaknya. Mendengar penjelasan ayahnya Hasan pun menangis dan memeluk ayahnya. Dia merasa bangga memiliki ayah seperti pak Umar. Bagi Hasan ayahnya merupakan ayah terbaik yang dia miliki, ayah yang inspiratif yang dia punya dan banyak pelajaran kehidupan yang dia dapat dari ayahnya itu.
Sejak saat itu ayahnya selalu melakukan hal tersebut (memasukkan uang uang ke dalam kota amal dan memberi uang kepada pengemis itu). Hasan tidak lagi bertanya perihal yang dilakukan ayahnya, karena Hasan memang sudah tahu maksud ayahnya melakukan hal itu. Malah Hasan tersenyum melihat yang dilakukan ayahnya.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan bahkan tahun pun sudah menginjak ke-20. Sekarang Hasan telah berusia 32 tahun. Dia sudah tidak lagi bersama ayahnya, bukan karena durhaka melainkan dia sudah bisa hidup mandiri. Dia telah berkeluarga dan mempunyai seorang anak perempuan dari istrinya yang bernama Anissa.
Hasan bukan lagi seorang anak SMP yang lugu, namun tekun dan ulet. Hasan sekarang telah berubah menjadi orang besar. Seorang direktur di suatu perusahaan swasta di Jakarta. Berkat modal kalimat yang diberikan ayahnya tempo dulu, “you will be a great man”. Dengan itu dia rajin belajar, tekun serta ulet berusaha dan giat beribadah serta berdoa. Dan akhirnya Hasan bukan lagi menjadi orang biasa, tapi seorang yang luar biasa.
Suatu hari dihari sabtu tepatnya, dia mendapatkan telepon dari Yogyakarta. Telepon itu tidak lain dari sang ayah. Saat itu Hasan sedang ada meeting mendadak di kantornya. “krriiinng, (nada handphone berbunyi)”, di sana tertera sebuah nama yang tidak asing lagi bagi Hasan “ayah”, itulah nama yang tertera. Lalu Hasan pun mengangkatnya. “Assalamu’alaikum nak, bagaimana kabarmu di sana? Kapan kamu bisa pulang ke Yogyakarta?”, suara ayahnya terdengar parau dan terbatuk-batuk. Hasan pun menjawab, “Alhamdulillah Hasan sehat ayah, maaf sekali Hasan tidak bisa pulang untuk beberapa hari ini. Karena ada proyek besar yang harus Hasan selesaikan. Mungkin bulan depan hasan bisa pulang, maafkan Hasan ya yah”. Tidak sempat ayahnya membalas kata-kata Hasan, Hasan menyudahi teleponnya. “maaf yah mungkin sudah dulu teleponnya ya yah, karena Hasan mau ada meeting. Lain waktu disambung lagi. Assalamu’alaikum” ucap Hasan sambil menutup teleponnya. Ayahnya yang berada jauh di sana meneteskan airmata sambil mengucapkan “wa’alaikum salam anakku”.
Setelah ditutupnya telepon dari anaknya, Umar berpesan pada istrinya “bu, jika nanti aku sudah tiada tolong jangan kabari Hasan. Karena di sedang sibuk dan aku tidak ingin mengganggu dia”. Istrinya dengan bergelimang airmata menjawab “jangan bicara seperti itu pak, bapak pasti kuat menjalani ini semua. Bapak jangan menyerah”. Istrinya memeluk Umar erat-erat yang sedang terbaring diranjangnya.
Satu bulan sudah berlalu, Hasan yang akhir-akhir ini disibukkan oleh proyek besarnya. Kini telah bisa bersantai karena proyeknya sudah berjalan 80%. Namun dibalik kelegaan itu Hasan mendapati hal-hal yang janggal dalam hidupnya. Dua minggu ini dia selalu mendapatkan sebuah surat yang bertuliskan alamat lengkap dan tertuju pada dirinya. Akan tetapi karena kesibukkan yang dialaminya, dia tidak begitu menghiraukan adanya surat itu. Surat itu dia taruh saja dilaci meja kerjanya. Setelah senggang seperti ini, dia buka satu surat yang terakhir masuk padanya. Saat dia baca, ternyata surat tersebut adalah surat ucapan terima kasih untuknya dari sebuah panti asuhan yang bernama “Kasih Tulus”. Karena penasaran dia pun membuka surat yang lainnya lagi. Ternyata surat lain pun berisi sama, yaitu ucapan terima kasih untuk dirinya.
Rasa penasaran pun bersemakin bertambah dan akhirnya Hasan terkejut bahwa nama panti asuhan tersebut merupakan nama panti tempat ayahnya dulu bekerja ketika dia SMP dulu. Hasan mulai ingat ayahnya pernah bercerita tentang panti asuhan tepat ayahnya bekerja. Sontak hatinya pun tergugah untuk mendatangi panti asuhan tersebut untuk menanyakna maksud dari surat tersebut. Keesokkan harinya Hasan berangkat ke Yogyakarta dengan menggunakan mobinya. Tidak lupa dia mengajak istri dan anaknya.
Setelah mobilnya masuk kawasan Yogyakarta Hasan bergumam, “suasana Yogyakarta ternyata masih sama seperti dahulu, tetap padat namun tak sepadat Jakarta. Sungguh rindu aku dengan keadaan semacam ini”. Dia pun tersenyum dalam gumamnya. Istrinya pun heran dengan tingkah aneh suaminya, “ada apa pah? Senyum-senyum sendiri.” Hasan menengok ke arah istrinya namun tidak lama, karena Hasan keadaan sedang menyetir. “aku hanya rindu saja mah dengan suasana seperti ini”. Jawab Hasan. Akhirnya sampai juga Hasan di panti asuhan “Kasih Tulus”.
Hasan pun disambut dengan ramah oleh pihak panti asuhan. Setelah itu Hasan beserta keluarganya dipersilahkan duduk. Kemudian Hasan memperkenalkan diri kepada pihak panti. Pihak panti pun merasa senang karena donatur tetapnya datang mengunjungi panti tersebut. Karena Hasan merupakan tau terhormat dan datang dari jauh, maka Hasan dipersilahkan untuk mandi dan beristirahat diruang tamu yang telah disiapkan. Dia berserta istri dan anaknya dituntun oleh salah satu pengurus panti tersebut.
Selesai Hasan menemui kepala panti tersebut dan menyuruh istri serta anaknya menunggu diruang tamu atau mempersilahkan istrinya untuk berkeliling-keliling panti tersebut. Setelah bertemu dengan kepala panti Hasan menjelaskan dan meluruskan bahwa dirinya tidak pernah memberikan donasi untuk panti tersebut. “Maaf pak sebelumnya, saya merasa tidak pernah menjadi donatur tetap bapak. Bahkan alamat lengkap panti ini saja saya tidak tahu. Saya bisa ke sini saja berkat alamat yang ada dalam surat yang bapak kirim. Mungkin bapak salah mengirim surat tersebut”. Kepala panti itu pun tersenyum mendengar ucapan Hasan. “Pak Hasan, saya tidak mungkin salah. Karena saya tahu anda. Saya adalah teman baik ayah anda sewaktu ayah anda bekerja di sini. Bagi saya, beliau adalah orang yang sangat baik dan sangat peduli akan sosial. Selain beliau menjadi tukang bersih2 di sini, beliau juga sering memberi motivasi dan membuat anak-anak panti menjadi ceria serta melupakan kesedihan mereka. Saya tahu memang bukan anda yang memberikan donasi itu kepada kami, melainkan ayah andalah yang memberikannya. Hanya saja beliau mengatas namakan anda sebagai donatur tetap panti kami. Awalnya beliau memberikan donasi kepada panti kami, namun sebelum beliau meninggal beliau berwasiat untuk memberikan hartanya untuk donasi bagi panti kami. Dan itu atas nama anda”, Jelas kepala panti tersebut. mendengar hal tersebut Hasan kembali meneteskan airmata, sama seperti saat dia masih menjadi siswa SMP. Ternyata kejanggalan tersebut bukan pada siapa yang memberikan donasi, tetapi kejanggalan tersebut karena dia telah lupa pada ayahnya. Dia terlalu sibuk untuk memperkaya diri. Padahal dulu ayahnya telah memberikan pelajaran penting kepadanya bahwa “kaya itu bukanlah apa yang kita miliki, namun kaya itu seberapa banyak kita memberi dan bermanfaat bagi orang lain”.
Hasan pun bergegas untuk pamit kepada kepala panti tersebut. kemudian dia mencari istrinya dan segera pergi menuju rumahnya. Sesampainya di rumah Hasan langsung berlari dan bersimpuh dikaki ibunya dan memohon ampun kepada ibunya karena Hasan belum bisa menjadi anak yang sepenuhnya berbakti kepada orangtua. Akhirnya ibunya menyuruh Hasan untuk berziarah ke makam ayahnya dan menyuruhnya untuk mendoakan ayahnya.

Semenjak itu Hasan menjadi donatur tetap di panti asuhan “Kasih Tulus” dan donasi yang Hasan berikan atas nama ayahnya. Hasan berharap supaya apa yang dia lakukan sampai kepada ayahnya serta membuat ayahnya tenang di alam sana. Tidak hanya itu, dia berharap semoga ayahnya mendapatkan tempat yang indah di sisi-Nya.

Sekian

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Pasca Melahirkan: Melestarikan Tradisi Ngayun

Sejarah Pesantren di Indonesia

Konsisten itu Sulit