Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Investasi Akhirat

:::: Samsu Wijayanto :::: Hidup di dunia bagaikan wadah. Wadah untuk mengisi berbagai amalan. Entah itu amalan baik ataupun amalan buruk. Semua diwadahi di dunia ini. Seperti yang terjadi pada sore tadi, saat aku menemani bibiku berbelanja untuk tokonya. Bibi : Setelah ini kita beli pukis dulu yah? Aku : oke bi. (seetelah selesai beli) Bibi : Bentar yah (sambil berlari menghampiri seorang nenek.) Aku : Iya bi. Dari kejauhan aku melihat bibi merogoh tas kecilnya dan memberikan beberapa lembar uang 5 ribuan. Aku : siapa itu bi? Kok ngasih uang. Bibi beli jajan? Bibi : ga kok, bukan siapa-siapa. Cuma kasihan aja sama nenek itu. Setua itu jualan snack di tempat kayak gitu. Tapi salutnya, nenek itu ga minta-minta. Dia tetap berusaha. Aku : oh gtu (sambil mengangguk mendengar penjelasan bibi.) Bibi : dulu pas awal bibi kasih juga ga mau. Tapi bibi tegasin bahwa bibi ngelakuin itu karena mau bantu dan tulus ngasih. Aku : berarti udah lama bibi kayak gini? Bibi : (hanya te...

Menghargai Hal Kecil dari Alam

::: Samsu Wijayanto ::: Kehidupan diciptakan dengan penuh keharmonisan, berpasangan meski dalam wujud yang berbeda. Tujuannya hanya satu, agar hidup ini bisa saling berdampingan satu dengan yang lain. Malam selalu berdampingan dengan siang untuk saling mengisi kekosongan, misalnya. Seperti juga manusia dengan alam. Keduanya sama-sama berdampingan dan saling membutuhkan. Manusia membutuhkan alam untuk hidup, begitu juga sebaliknya. Namun dewasa ini hubungan manusia dengan alam menjadi kurang baik, tidak harmonis bahkan cacat. Tidak sedikit orang yang melakukan eksploitasi hutan hanya untuk mengisi perut dan kebutuhan pribadinya. Akibatnya, seperti cuplikan lagu dari Ebiet G Ade berjudul "Berita kepada Kawan". Kurang lebih beginilah liriknya : "Mungkin Tuhan mulai bosan Melihat tingkah kita Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa Atau alam mulai enggan Bersahabat dengan kita Coba kita bertanya pada Rumput yang bergoyang" Adanya bencana alam dan s...

PUING-PUING KESETIAAN

Y a Allah ... jangan kau sediakan ruang hati ini untuknya ...             Jatuh cinta lagi. kenapa sih aku masih saja bisa jatuh cinta? 2 bulan sudah aku menjadi siswa SMA. aku sekelas dengan seorang cowok, sebut saja namanya Ringga.             Di mulai dari perkenalan kemudian berlanjut dengan tugas kelompok. Dia selalu mendaftar menjadi kelompokku dari semua bidang study. kebetulan 5 orang anggota kelompok yang aktif hanya aku dan Ringga. kami jadi sering ngerjain bareng, diskusi, nyari informasi di internet bareng bahkan kita jadi sering OL-lan. awalnya sih biasa-biasa aja. tapi karena di dukung oleh bercanda yang sering bareng juga maka semuanya menjadi luar biasa. lambat laun muncullah perasaan suka. ternyata pepatah jawa yang mengatakan “WITING TRISNO JALARAN SOKO KULINO” telah terbukti.             Hingga sesu...

Mengambil Hikmah dari Aksara Jawa

“Hana caraka” artinya “ada utusan” “Data sawala” artinya “sedang bertengkar” “Padha jayanya” artinya “sama-sama kuatnya” “Maga bathanga” artinya “sama-sama menjadi mayat (mati)” Tidak banyak alasan bagi saya menulis tulisan ini. Menurut saya, yang perannya sebagai penulis hanya mengetahui aksara ini memiliki arti yang begitu dala dalam kehidupan, khususnya dalam melatih kita untuk menjaga amanat dan kesetiaan. Aksara jawa yg sebagian orang kenal dgn sebutan huruf hanacaraka ternyata menyimpan sejarah kelam di dalamnya. Sejaranya berawal dari kisah Aji Saka dan empat orang abdi atau pengikutnya. Sebenarnya kisah ini sudah pernah diceritakan oleh guru-guru bahasa jawa kita. Tapi juga tidak banyak guru bahasa jawa yg mengetahui kisah ini. Maka dengan datangnya selayang status mu dah-mudahan dapat mengingatkan kembali dan menambah pengetahuan pembaca. Diceritakan ada seorang putra raja dari tanah hindhustan. Ia bernama Aji Saka. Dia memiliki cita-cita yaitu ingin menjadi seoran...